Saya Meita.Lahir di Jakarta 37 tahun yang lalu.Menikah dengan 2 angel yang lucu lucu, Nadya Fahira, 9 tahun dan Salma Rania,4 tahun. Nadya penyandang autisma. Di usianya yang ke 2,5 tahun ia di diagnosis seorang profesor ahli syaraf anak menyandang autis. Sekarang ia sudah bersekolah di Sekolah Luar Biasa di bilangan Dukuh Kramat Jati, sebuah Sekolah untuk anak berkebutuhan khusus terutama autisma.
Dari Nadya saya belajar tentang kehidupan ini dalam spektrum yang lebih luas dari apa yang selama ini saya ketahui.
Semenjak kecil,remaja ,masa kuliah saya lalui seperti umumnya pada jaman itu. Saya lahir sebagai anak pertama dari 2 bersaudara. Adik saya, Ansar, kini bermukim di Melbourne,Australia bersama keluarga kecilnya ( mempunyai 1 anak yakni keponakan saya yang lucu dan pintar, Sabri Aurel Bayanta ). Ia seorang Geologist tapi sekarang banting stir sejak bermukim di Australia dengan mendalami Finance.
Garis hidup setiap orang bisa saja berubah.
Sesuatu hal yang dulu tidak pernah terpikirkan oleh saya.
Saya dulu berpikir kalau nanti saya besar, saya akan kuliah ( saya jalani ), saya akan menikah ( benar, saya juga menikah ), saya akan punya anak ( saya punya anak pertama yang cantik,lucu dan menggemaskan ), lalu saya akan mengantarkan anak pertama saya masuk sekolah ......... ,
Saya merasa kehidupan saya yang baru start dari titik ini.
Saya tidak mengantarkannya ke sekolah reguler atau taman bermain untuk anak usia 2,5 tahun tapi saya mengantarkannya ke sebuah klinik terapi.
Ya, umur 2,5 tahun, beberapa hari setelah di diagnosis autis, Nadya mulai di terapi.
Bila ditanya perasaan saya pada masa masa sejak baru tahu Nadya penyandang Autis,saya punya perasaan yang berbeda dengan teman teman ( setelah saya mempunyai banyak teman dari komunitas ini), yakni perasaan saya biasa biasa saja, seperti baru di diagnosis sakit batuk.Mungkin saat itu saya belum tahu banyak seberapa berat tantangan yang akan saya hadapi hari hari ke depannya.
Kalau teman teman lain banyak yang stress, ada yang menangis meraung raung di ruang dokter yang mendiagnosis anaknya, ada yang saking stressnya mengurung diri di kamar, ada yang sibuk mempersalahkan dirinya sendiri " why me??" dan lain lain.
Saya rasa saya memang berbeda.
Dukungan dari keluarga saya rasakan luar biasa efeknya kepada saya. Terutama orang tua. Mama dan papa sangat menguatkan saya, apapun yang terjadi dengan anak saya ,mereka memberikan kata kata yang sangat menyentuh hati saya dan masih tetap menjadi penguat yang sejati sampai sekarang.
Peran suami juga menentukan, dia mendukung saya dengan program program awal saya dengan menyediakan segala fasilitas untuk Nadya. Sayang karena tempat kerjanya waktu itu jauh di luar kota,sehingga saya harus mengerjakan sendiri segala sesuatunya dibantu dengan seorang pembantu yang berfungsi sebagai asisten saya.
Belakangan saya tahu bahwa suami juga mengalami proses denial akan keadaan Nadya. Satu tahun lamanya. Dan saya lah orang yang menyadarkan dia bahwa anak kita memang berbeda. Saya yang menegaskan pada dia bahwa berhentilah menganggap 'there's nothing wrong with our child', memang ada" something".Nadya is an autistic child, she's diffrent......
Pada saat itu saya baru merasa sedih yang mendalam. Saat dimana saya menyadarkan seseorang dan saya pun tersadar. Di punggung kami sekarang ada kewajiban yang akan kami panggul seumur hidup kami,ada seorang yang sangat tergantung dengan keberadaan kami berdua yaitu NADYA. Tapi saya bersyukur karena kami kini berdua sudah berjalan bersama,di rel yang sama,saya dan suami.Apapun yang terjadi, Nadya adalah anak kita, ia adalah titipan Allah pada kita. Kalau orang orang mengatakan kami yang mempunyai anak kebutuhan khusus adalah orang orang pilihan,mungkin ada benarnya juga, mungkin Allah tidak sembarang menitipkan anak anak seperti Nadya kepada hamba hamba Nya yang dirasanya tidak akan sanggup menerimanya. Itu semua Rahasia Allah SWT, kita hanya diwajibkan untuk merawat,mendidik menyayangi mereka.Saya hanya mengharapkan ridha Nya semata, agar saya dapat menjaga titipan paling berharga ini dengan sebaik baiknya,diberi kekuatan dan kesabaran.
Hari hari pada tahun pertama mulai kita isi dengan berbagai terapi, berbagai pengobatan, tidak terkecuali pengobatan alternatif yang masih masuk akal untuk kita coba ke Nadya. Banyak keluarga yang bersimpati atas keadaan kami dan kami berterima kasih untuk itu semua.
Lingkungan keluarga besar juga sangat welcome dengan Nadya. Mereka sangat pengertian bila Nadya sedang ikut bergabung dengan kami dalam suatu acara (pengertian akan perilaku Nadya yang kadang suka 'aneh aneh' ).
Lalu Allah memberikan saya berkah kembali.
Salma lahir setelah saya berpikir panjang ( saking panjangnya sampai 5 tahun ) untuk memberikan Nadya adik. Saya merasa belum tepat waktunya bila saya masih fokus dalam pengobatan dan terapi Nadya lalu saya punya bayi lagi. Tapi setelah dipikir pikir, waktu yang tepat tidak akan datang bila kita tidak mencoba dan memaksakan suatu keadaan.
Tanggal 29 Mei 2004, Salma Rania,putri kedua kami lahir.
Dengan berbagai persiapan,check sana check sini,memberitahukan kepada dokter dokter yang menangani saya bahwa anak pertama saya Autis.Respon mereka sangat membantu sekali.
Alhamdulilah Salma sekarang sudah berusia 4 tahun, cerdas,cerewet dan yang penting, dia normal dan sehat.
Keberadaan Salma sangat memberikan warna baru buat kehidupan kami semua. Tawa cerianya menggembirakan kita semua. Membangunkan kembali rumah yang sepi karena kami sibuk dan fokus dalam pengobatan dan sekolah Nadya.
Pengaruh pada Nadya juga sangat besar, dia jadi banyak mengeluarkan kata kata, karena adiknya ini sangat sangat cerewet. Pembelajaran tentang interaksi sosialnya juga Nadya pelajari dari adiknya.
Tidak ada kata kata yang lebih tepat selain ucapan syukur kepada Allah SWT atas segala yang diberikan kepada kami .
Sekelumit kisah saya diatas mungkin baru secuil dari beribu ribu kejadian yang terjadi dalam kehidupan saya, selama 37 tahun saya berada di dunia ini dan terutamanya dari usia Nadya 2,5 tahun yang saya ingat sebagai A New Beginning untuk saya pribadi.
Dari berbagai pengalaman dan kejadian , mulai dari yang gembira,pahit-getir,menyenangkan- tidak menyenangkan, putus asa, merasa sendiri, merasa cobaan ini terlalu berat dan berbagai perasaan lainnya, saya hanya tidak punya , dan tidak mau kata ini ada kamus hidup saya, yaitu Menyesal dan Menyalahkan diri saya sendiri atas apa yang terjadi dalam kehidupan saya sekarang.
Saya menerima Nadya apa adanya,mensyukuri every step kemajuan yang ia lakukan.
Saya terus menerus belajar untuk menerima dan bersyukur.
Saya tahu yang saya hadapi adalah sebuah tanjakan yang tak berujung...........
Tetapi sebagai seorang yang beriman, saya tahu Allah pasti mempunyai rencana yang indah untuk kami, Nadya dan saya serta keluarga .
Walau kadang terasa sangat sangat berat,saya yakin akan pertolongan Allah, saya bisa melewatinya dengan baik. Bila kemudian saya tersandung dan jatuh lagi, saya pasti punya kekuatan untuk bangkit lagi,mulai lagi, belajar lagi, terus mencari informasi dan lainnya.
Semua untuk Nadya.
Saya akan bercerita tentang di posting/ judul tersendiri tentang Salma.
Pengalaman hidup mendewasakan saya.
Tapi saya juga manusia biasa yang bisa merasa kecewa, putus asa, rindu masa lalu yang tanpa beban dan bebas merdeka melakukan apa yang saya mau, ..............
Tidak semua keinginan kita dapat terpenuhi. Sejauh kita bisa menikmati apa yang sudah Allah berikan kepada kita, berpeganglah pada kata bijak " Jangan lihat ke atas terus,sesekali tengok ke bawah kita ",pasti kita akan mensyukuri kalau nasib kita masih lebih baik dari mereka yang dibawah kita. camkan lagi, mereka yang dari kalangan bawah yang kesusahan itu saja tidak melulu hidup mereka dalam murung dan derita,mereka juga bisa tertawa dan mensyukuri yang telah mereka dapat.Mengapa kita tidak bisa?
Sebagai penutup,saya sangat suka syair lagu ini, tapi konteksnya beda, I imagine it's about me and my two daughters......
' Kau adalah darahku,
Kau adalah jantungku,
Kau adalah hidupku, lengkapi diriku
Sayangku kau begitu...............Sempurna........'
As for me,my two angel are realy realy sempurna....................................
Rabu, 04 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar